icon

LensaDaily.com

Kategori Berita

Cabang Berita

Pilih Tema:

Tag: karhutla


Perbukitan Tongging Karo Kawasan Danau Toba Terbakar, Capai 12 Hektare

LensaDaily - Kawasan perbukitan Danau Toba kembali terbakar yang terjadi di Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Kamis malam, 14 Agustus 2025. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) itu sudah mencapai 12 hektare.Kepala Bidang Perlindungan, Penegakan Hukum dan Peningkatan Kapasitas Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Sumut, Zainuddin Harahap, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima laporan Karhutla itu, turun melakukan proses pemadaman api."Lokasi terbakar, Pinus, semak belukar, ilalang dan luas yang sudah terbakar sekitar 12 hektar," ucap Zainuddin, Sabtu 16 Agustus 2025.Zainuddin mengungkapkan untuk proses pemadaman api mengalami kendala, karena kondisi perbukitan dan jalan terjal. "Kendala yang dihadapi hari ini, adalah akses menuju lokasi TKP berbukit terjal. Kondisi saat ini, api sudah padam," jelas Zainuddin. Zainuddin mengungkapkan bahwa untuk penyebab kebakaran, masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. Termasuk, dilakukan pemantauan di lokasi kebakaran tersebut, untuk mengatasi kebakaran susulan."Hari ke dua Mupping di Desa Tongging Sumber air ada sehingga Kegiatan terlaksana dengan maksimal.  Tim masih melakukan memantau dilokasi kebakaran," ucap Zainuddin.

16 Agustus 2025

Bobby Nasution Ungkap Penyebab Air Danau Toba Keruh

LensaDaily - Kondisi air Danau Toba yang belakangan keruh berwarna cokelat akhirnya terungkap penyebabnya. Air Danau Toba yang keruh tersebut di terpantau terjadi di Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara dan kondisi ini sempat viral di media sosial.Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) sudah melakukan uji laboratorium terhadap kondisi air Danau Toba, yang keruh berwarna cokelat tersebut. Kondisi ini terjadi bersamaan dengan kemaran dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di daerah kawasan Danau Toba.Gubernur Sumut, Muhammad Bobby Afif Nasution mengungkapkan hasil uji laboratorium air Danau Toba keruh tersebut, tidak lepas dengan cuaca kemarau yang melanda kawasan Danau terbesar di Indonesia itu."Yang pasti kemarin saya sampaikan itu karena kekeringan (kemarau)," ungkap Bobby kepada wartawan di Kota Medan, Selasa 5 Agustus 2025.Bobby Nasution mengatakan Pemprov Sumut sudah menyiapkan langkah-langkah untuk mengembalikan kondisi air Danau Toba. Salah satunya, melakukan modifikasi cuaca dengan menurunkan hujan."Makanya kita buat kemarin rekayasa cuaca. Itu juga kemarin keluar sumber-sumber belerang yang masuk ke area wilayah air Danau Toba," kata Bobby Nasution. Bobby Nasution mengaku tidak paham dengan cuaca kemarau membuat air Danau Toba keruh. Karena, harus dijelaskan oleh pihak-pihak yang berkompeten di bidangnya. "Belum (bisa) disampaikan secara lugas, nanti kalau saya sampaikan gak pakai data (bisa) salah ya," ucap mantan Walikota Medan itu.

05 Agustus 2025

Danau Toba Kembali Terbakar, Perbukitan Sihorbo Simalungun Memerah

LensaDaily - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Danau Toba kembali membara yang terdeteksi di Perbukitan Sihorbo, Kelurahan Haranggaol, Kecamatan Haranggaol Horisan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, pada Kamis malam, 31 Juli 2025.Kepala Seksi Humas Polres Simalungun, AKP Verry Purba mengungkapkan menerima laporan Karhutla tersebut, pihaknya bersama TNI turun melakukan pengecekan langsung. "Kami langsung merespons laporan masyarakat tentang adanya kebakaran di Perbukitan Sihorbo yang tidak terdeteksi oleh sistem pemantauan Hotspot Lancang Kuning. Tim gabungan segera diturunkan untuk melakukan pengecekan dan upaya penanganan," ucap AKP Verry Purba, dalam keterangan persnya, Jumat dini hari, 1 Agustus 2025.Verry mengungkapkan pihaknya langsung melakukan kordinasi dengan steakholder terkait untuk melakukan penanganan pemadaman api, termasuk dengan Tim Damkar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simalungun. "Tim gabungan yang kami kerahkan terdiri dari personel Polri, TNI, dan Damkar yang bekerja secara sinergis. Koordinasi yang solid antar instansi menjadi kunci dalam penanganan bencana seperti ini," ucap AKP Verry Purba.Lokasi kebakaran di Perbukitan Sihorbo, Kelurahan Haranggaol, Kecamatan Haranggaol Horisan, memiliki karakteristik geografis yang sangat menantang bagi upaya pemadaman. Medan yang curam dan tidak adanya akses jalan menuju titik api menjadi kendala utama dalam proses pemadaman."Kondisi geografis lokasi sangat menyulitkan upaya pemadaman. Perbukitan yang curam dan tidak ada akses jalan membuat tim tidak bisa melakukan pemadaman secara manual maupun menggunakan kendaraan pemadam kebakaran," kata Verry. Berdasarkan hasil pemantauan tim di lapangan, luas lahan yang telah terbakar hingga saat pelaporan mencapai sekitar 2 hektare. Yang menjadi keprihatinan adalah api masih terus menyala dan belum dapat dipadamkan sepenuhnya karena keterbatasan akses dan kondisi medan yang ekstrem."Berdasarkan pemantauan tim, luas area yang sudah terbakar sekitar 2 hektare dan api masih menyala hingga saat ini. Kondisi medan yang sulit membuat upaya pemadaman menjadi sangat challenging," ujar AKP Verry Purba.Meskipun menghadapi kendala geografis yang signifikan, tim terus melakukan upaya maksimal untuk mengendalikan penyebaran api. Lanjut, Verry mengatakan strategi yang diterapkan adalah melakukan pemantauan intensif untuk memastikan api tidak menyebar ke area yang lebih luas atau mengancam pemukiman warga."Meskipun pemadaman total sulit dilakukan karena kendala medan, tim terus melakukan monitoring ketat untuk memastikan api tidak menyebar lebih luas. Keselamatan masyarakat dan pencegahan perluasan adalah prioritas utama," ucap Verry. Polres Simalungun juga melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk mencari solusi alternatif dalam upaya pemadaman. Kemungkinan penggunaan helikopter water bombing atau metode lain sedang dikaji untuk mengatasi keterbatasan akses darat."Kami terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mencari solusi terbaik. Berbagai opsi termasuk kemungkinan penggunaan bantuan udara sedang dipertimbangkan untuk mengatasi kendala geografis ini," ucapnya.Kejadian ini, Verry mengatakan juga menjadi momentum bagi Polres Simalungun untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi Karhutla, terutama di musim kemarau. Edukasi dan sosialisasi tentang pencegahan kebakaran hutan dan lahan akan terus ditingkatkan."Kejadian ini mengingatkan kita semua tentang pentingnya kewaspadaan terhadap potensi Karhutla. Kami akan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pencegahan dan pelaporan dini kejadian kebakaran," jelas Verry.

01 Agustus 2025

Karhutla di Samosir Masih Berlangsung, Titik Api di Bukit Jadi Kendala Petugas

LensaDaily - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih terjadi di Kabupaten Samosir dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Utara (Provsu) bersama tim gabungan masih melaksanakan upaya penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Samosir hingga, Minggu 27 Juli 2025.Pada pukul 00.40 Wib dinihari, 2 unit mobil pemadam kebakaran milik BPBD Provsu dan satu unit Damkar Kabupaten Samosir beserta personil melakukan pemadaman titik api yang berada di Desa Aek Sipitu Dai, Kecamatan Sianjur Mulamula.Pada awalnya titik kebakaran diketahui berdasarkan laporan masyarakat bahwa sejak tanggal 26 Juli 2025, sekitar pukul 23.00 Wib telah terjadi Karhutla di lokasi tersebut.Tim langsung turun ke lokasi dan melakukan upaya pemadaman hingga 27 Juli 2025 siang sekitar pukul 12.15 Wib api masih belum berhasil dipadamkan."Berdasarkan laporan terakhir di lapangan, titik api pun sudah menyebar ke Desa Boho, Kecamatan Sianjur Mulamula dan tim gabungan masih berupaya melakukan pemadaman api," sebut BPBD Sumut dalam keterangan resminya pada akun media sosial Facebook, Senin 28 Juli 2025.Apel yang digelar di lingkungan Kantor BPBD Provsu diikuti oleh seluruh pegawai, baik dari jajaran Pejabat Eselon III, Pejabat Eselon IV, Pejabat Fungsional, Staf dan Satgas.Adapun sejumlah tim gabungan yang berada dilapangan untuk melaksanakan upaya pemadaman api terdiri dari personil BPBD Provsu, BPBD Kabupaten Samosir, Manggala Agni, KPH XIII, TNI, Polri, Damkar dan Satpol PP Kabupaten Samosir, serta Pemerintah Kecamatan dan Desa, juga masyarakat sekitar.Kendala yang dihadapi tim di lapangan dalam upaya melakukan pemadaman api adalah tidak adanya akses menuju titik api yang berada di atas bukit.

28 Juli 2025

Bobby Nasution Tetapkan 7 Daerah di Sumut Siaga Darurat Karhutla

LensaDaily - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatera Utara (BPBD Sumut) menetapkan tujuh daerah kabupaten/kota status siaga darurat bencana kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Tujuh Kabupaten tersebut yang mengelilingi kawasan Danau Toba. Tujuh daerah status siaga darurat Karhutla yang ditetapkan BPBD Sumut, yaitu Kabupaten Toba, Kabupaten Samosir, Kabupaten Simalungun dan Kabupaten Humbang Hasundutan. Kemudian, Kabupaten Karo, Kabupaten Dairi dan Kabupaten Tapanuli Utara.Kepala BPBD Sumut, Tuahta Ramajaya Saragih menjelaskan bahwa penetapan status darurat tersebut, berdasarkan arahan dan petunjuk dari Gubernur Sumut Bobby Nasution, agar masalah kebakaran dan kekeringan bisa diatasi. "Ini adalah bagian dari upaya kita menaikkan air permukaan. Langkah-langkah antisipasi, kita sudah mensiagakan petugas kita disana, untuk memadamkan api api yang muncul, juga mendistribusikan air bersih," ucap Tuahta kepada wartawan, Kamis 24 Juli 2025.Berdasarkan data BPBD Sumut itu, 80 kejadian kebakaran, dengan luas yang terbakar mencapai 1.804,95 hektare itu. Tercatat 40 kejadian berada di wilayah Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba, yang meliputi 7 Kabupaten tersebut.Sisanya, 40 kejadian lagi berada di luar wilayah KSPN, yang meliputi 14 Kabupaten/Kota, di Sumut ini. Berdasarkan data yang dihimpun BPBD Sumut periode Januari-Juli 2025."Dan ini juga sudah berlangsung cukup lama ya. Januari-Juli 2025 total kebakaran hutan dan lahan sebanyak 80 kejadian. Luas yang terdampak 1.804, 95 hektare," sebut Tuahta.Lebih lanjut, Tuahta menyebutkan, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga puncak kemarau itu, akan berlangsung pada bulan Juli ini sampai dengan akhir Agustus 2025. "Jadi berdasarkan itu, dan fakta dilapangan juga itu memang, hampir benar terjadi ya, kekeringan dan kebakaran hutan. Apalagi memang saat ini sedang revalidasi geopark kaldera toba dari Unesco. Jadi ini juga bentuk komitmen pak gubernur dan 7 kepala daerah, untuk menjaga bahwa geopark ini tetap green card nanti," jelasnya.Karena itu, Tuahta berharap kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BMKG membuat modifikasi cuaca atau hujan buatan di tujuh daerah yang rawan terjadi kebakaran tersebut. "Ini hanya siaga darurat, selain memang kobarasi dengan BMK, BNBP soal pembuatan hujan, juga kita harap untuk menyiapakan steakholder di kabupaten dan provinsi untuk masa kekeringan sampai dengan agustus nanti," kata Tuahta.

25 Juli 2025