LensaDaily - Tim Terpadu Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) melakukan penindakan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) ilegal di kawasan Sungai Batang Gadis, tepatnya di sekitar Muara Mais Kabupaten Mandailing Natal (Madina).Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Sumut Heri Wahyudi Marpaung mengatakan, operasi tersebut merupakan tindak lanjut atas arahan tegas Gubernur Sumut Muhammad Bobby Afif Nasution agar seluruh aktivitas pertambangan ilegal yang merusak lingkungan dan mengancam keselamatan masyarakat ditindak secara konsisten sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.“Saat Tim Terpadu tiba di lokasi, para pelaku PETI yang mengetahui kedatangan petugas langsung melarikan diri dengan menyeberangi Sungai Batang Gadis menuju kawasan hutan. Meskipun demikian, petugas berhasil mengamankan sejumlah barang bukti serta menemukan berbagai peralatan yang digunakan untuk mendukung aktivitas penambangan emas ilegal,” katanya, Jumat 3 Juli 2026.Berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan, aktivitas tambang ilegal di kawasan tersebut telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang cukup serius. Pengerukan di sepanjang bantaran Sungai Batang Gadis mengakibatkan perubahan bentang alam, kerusakan ekosistem, serta pengikisan tanah yang telah mendekati badan Jalan Lintas Sumatera.“Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko bencana, seperti banjir dan longsor, yang dapat membahayakan masyarakat serta mengganggu infrastruktur jalan nasional apabila aktivitas ilegal tersebut terus berlangsung,” ungkapnya.Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Energi, dan Sumber Daya Mineral (Perindag ESDM) Sumut Dedi Jamiansyah Putra mengatakan, sebagai bagian dari penegakan hukum, Tim Terpadu melakukan penghancuran terhadap sarana dan peralatan yang digunakan dalam aktivitas PETI, menyita barang bukti yang ditemukan di lokasi, serta akan memproses penindakan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.Menurutnya, Pemprov Sumut berkomitmen untuk terus melaksanakan operasi penertiban secara berkelanjutan terhadap seluruh aktivitas tambang emas ilegal di berbagai daerah. Langkah tersebut tidak hanya menjadi bentuk penegakan hukum, tetapi juga upaya nyata menjaga kelestarian lingkungan, melindungi keselamatan masyarakat, serta memastikan pengelolaan sumber daya alam dilakukan secara legal, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.“Pemprov Sumut juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan dengan tidak melakukan aktivitas pertambangan ilegal serta melaporkan apabila menemukan praktik PETI kepada aparat atau instansi yang berwenang,” sebutnya.***
04 Juli 2026Tag: sungai
LensaDaily - Warga Desa Pematang Lalang, Desa Percut, dan Desa Cinta Rakyat Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deliserdang dihebohkan dengan penampakan busa tebal di sungai yang diduga akibat pencemaran bahan kimia. Busa tebal ini tak hanya menutup muara tapi juga mengenangi sawah warga.Ketua KTHn Amphibi Percut A.Sayuti menyatakan kejadian kemunculan busa tebal tersebut terjadi pada Selasa (30/6/26) dinihari, sekitar pukul 03.00 WIB."Dokumentasi 30 Juni 2026, pukul 07.14 WIB menunjukkan busa mengapung padat dari Estuari hingga ke saluran irigasi pertanian," jelas A.Sayuti. Sementara, Ketua Umum (Ketum) KTH Amphibi Agus Salim Tanjung mengutuk keras terhadap pelaku pencemaran Sungai Percut."Hal ini sangat berdampak besar terhadap hutan Mangrove yang kami tanam di muara sungai Percut, " ucap Agus.Menurutnya, akibat busa yang diduga berbahan kimia tersebutz dapat mengakibatkan huutan Mangrove di Ambang Kematian karena busa menutup total permukaan air muara. "Ini pembunuhan pelan-pelan. Oksigen habis, akar napas mangrove Taman Edukasi AMPHIBI tertutup," jelas Agus. "Kalau mangrove mati, maka dapat menyebabkan 300 KK nelayan di tiga desa ini kehilangan benteng dari banjir rob dan abrasi," sambungnya.Agus mengungkapkan bahwa ketiga desa itu adalah merupakan lumbung padi di Percut Sei Tuan. Kontaminasi dari busa yang diduga limbah surfaktan/industri yang telah masuk ke sawah warga dapat menyebabkan gagal panen."Sawah di Desa Pematang Lalang, Desa Percut, sampai Cinta Rakyat sekarang penuh busa. Padi terancam gagal panen. Ini bukan cuma merusak alam, tapi merampas sumber pangan ribuan warga," tegas Agus.Ia mendesak agar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Deliserdang dan Pemprov sumut dapat bertindak cepata untuk mengambil sampel air dan tanah yang terpapar busa itu."Jika terbukti merusak lingkungan, maka DLH wajib menindak tegas terhadap perusahaan yang kedapatan sembarangan membuang limbahnya, serta berikan ganti rugi ke petani dan nelayan yang terdampak di ketiga desa tersebut. Kami harap kedepannya tidak lagi terjadi hal seperti ini. Sudah cukup tiga desa ini yang menjadi korban," tutup Agus.***
30 Juni 2026LensaDaily - Pencarian terhadap seorang siswi SMK Negeri 1 Alasa Talumuzoi Kabupaten Nias Utara berinisial AJZ (17) berakhir sudah usai ditemukan dalam keadaan meninggal. Jasad AJZ ditemukan di aliran sungai kecil dalam kawasan perkebunan di Dusun IV, Desa Hilina’a, Kecamatan Alasa Talumuzoi, Kabupaten Nias Utara, Jumat 15 Mei 2026 sekira pukul 17.30 WIB.Penemuan jasad AJZ oleh warga dan pihak keluarga di aliran sungai kecil ini usai dilakukan pencarian intensif selama dua hari sejak dilaporkan hilang sejak Rabu 13 Mei 2026. Di lokasi penemuan, petugas juga menemukan barang-barang milik korban berupa tas, baju sekolah, dan sepatu.Mendapat laporan tersebut mayat pelajar tersebut, Kapolsek Alasa Iptu Fanema Lase bersama Tim Medis Puskesmas Alasa Talumuzoi mendatangi TKP. Jasad korban kemudian dievakuasi ke Puskesmas Alasa Talumuzoi untuk dilakukan visum.Menindak lanjuti informasi tersebut, Kapolres Nias AKBP Agung S.D.C. telah memerintahkan Kasat Reskrim Polres Nias AKP Soni. Z., bersama dengan Tim Sat Reskrim Polres Nias untuk turun ke lapangan dan membantu Polsek Alasa dalam hal penyelidikan secara insentif. "Motif dari kejadian tersebut dalam penyelidikan, kami juga memohon bantuan dari masyarakat, jika ada informasi terkait penemuan mayat tersebut, silahkan sampaikan kepada kami dan Identitas pasti kami rahasiakan," ungkap AKBP Agung.Saat ini, Satreskrim Polres Nias bersama Polsek Alasa sedang melakukan penyelidikan terkait kematian AJZ yang diduga korban pembunuhan tersebut. Masyarakat pun diimbau untuk tetap tenang dan mempercayakan penanganan kasus sepenuhnya kepada pihak berwajib.
16 Mei 2026LensaDaily - Tiga orang dilaporkan meninggal dunia yang menjadi korban bencana longsor yang menerjang jalan lintas di Desa Hutabarat, Kecamatan Pahae Julu, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Selasa sore, 5 Mei 2026, sekitar pukul 16.30 WIB. Dua korban diantaranya penumpang mobil pikap yang tertimbun longsor, sedangkan satu korban lagi tertimbun saat berusaha menyelamatkan.Tiga korban tewas tersebut, masing-masing berinisial BN (34) warga Sitaputapu Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel), DH (38) Hutagodang Kabupaten Labusel dan DS (14) Dusun Hopong, Desa Muara Tolang kecamatan Simangumban, Kabupaten Taput.Kepala Seksi Humas Polres Taput, Aiptu Walpon Barimbing menjelaskan sebelum terjadi tanah longsor, sekitar lokasi kejadian dilanda hujan. Saat itu melintas mobil bak terbuka yang mengangkut sayur dan langsung terseret material longsoran itu. "Tak di ketahui secara tiba-tiba longsor tebing gunung yang berada di pinggir jalan pun terjadi lalu mendorong mobil tersebut hingga ke sungai yang berada di bawah jalan," kata Walpon saat dikonfirmasi Rabu siang, 6 Mei 2026.Walpon mengungkapkan mobil pikap itu, dikemudikan oleh FA (34). Sang sopir bisa di selamatkan walau mengalami luka berat. Sedangkan, dua penumpang mobil itu, BN dan DH tak berhasil menyelamatkan diri dan meninggal dunia."Sedangkan korban meninggal dunia yang satu orang lagi berinisial DS. Menurut keterangan saksi, saat kejadian tersebut, korban saat melintas di lokasi kejadian merasa prihatin dan turun ke sungai untuk menolong mengeluarkan korban dari mobil," kata Walpon."Tiba-tiba longsor susulan pun terjadi, sehingga turut terdorong tanah dan menjepit ke mobil yang terjatuh dan nyawanya DS pun tidak terselamatkan," ucap Walpon.Walpon mengungkapkan pihaknya menerima laporan bencana alam itu, turun langsung melakukan evakuasi seluruh korban, yang selamat dan meninggal dunia tersebut. "Kini ketiga korban pun, sudah di evakuasi ke Rumah Sakit Umum (RSU) Tarutung menunggu keluarga masing-masing," ungkap Walpon.
06 Mei 2026LensaDaily - Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution mendorong percepatan pembangunan tanggul Sungai Badiri di Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), dikebut sebagai upaya percepatan rekonstruksi pascabencana.Hak ini dikatakannya saat meninjau langsung pembangunan tanggul Sungai Badiri di Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Senin 13 April 2026. Dalam kunjungan tersebut, Gubernur yang hadir bersama Bupati Tapteng Masinton Pasaribu serta pimpinan OPD Pemprov Sumut memantau langsung kondisi Sungai Badiri yang tengah dalam proses pembangunan tanggul.Kehadirannya bertujuan memastikan pengerjaan berjalan sesuai rencana, sekaligus mengidentifikasi kendala di lapangan, mengingat intensitas hujan yang masih tinggi."Saya minta secepatnya dibangun ini (Tanggul Sungai Badiri), karena memang sudah ada anggarannya. Jangan lama-lama, segera kerjakan pemantapan tanggul sungai," ujar Gubernur Bobby Nasution di lokasi.Selain mendorong percepatan pekerjaan, Bobby Nasution juga menyoroti aspek teknis di lapangan agar tidak terhambat oleh persoalan administrasi maupun kelalaian. Ia menekankan pentingnya antisipasi terhadap tantangan di lapangan, mengingat banjir besar sebelumnya sempat merusak timbunan batu tanggul."Dan saya minta kepada masyarakat, tolong dukungannya. Jadi nanti kalau ada yang masuk dan mengerjakan tanggul bisa dibantu kelancarannya. Karena memang tadi dari PU, ini aliran sungainya mau digeser sementara, supaya pembangunan tanggul bisa berjalan lancar," jelasnya.Gubernur juga meninjau progres pembangunan Jembatan Bayli oleh pihak TNI, yang terlihat telah menyiapkan material besi. Ia berharap pembangunan tanggul dan jembatan dapat berjalan beriringan guna mendukung akses masyarakat, khususnya menuju kawasan pertanian."Tetapi ingat, di kawasan ini (sempadan sungai), apabila masuk zona merah tidak boleh bertempat tinggal di sini ya Bapak/Ibu. Kalau untuk beraktivitas (mata pencaharian), silakan saja, dan untuk hunian, kita (Pemprov Sumut) siap bantu. Mau membangun rumahnya (rusak berat) boleh, mau kita yang siapkan lahan juga boleh," ujar Bobby menanggapi keluhan warga Dusun I, Desa Lubukampolu, Kecamatan Badiri.Sementara itu, warga Desa Lubukampolu, Darmi Sihombing (45), mengaku khawatir dengan kondisi cuaca saat ini. Ia menyebut intensitas hujan tinggi menyebabkan debit air sungai meningkat drastis dalam waktu singkat. Kondisi ini semakin menyulitkan aktivitas warga yang harus menyeberangi sungai untuk menuju ladang, setelah jembatan sebelumnya hanyut akibat banjir pada akhir 2025 lalu.Usai meninjau Sungai Badiri, rombongan melanjutkan kunjungan ke lokasi lahan yang akan dibebaskan untuk pembangunan hunian tetap bagi masyarakat di Dusun I Desa Lubukampolu. Selanjutnya, Gubernur bergerak ke Kecamatan Tukka, wilayah lain yang juga terdampak bencana.
14 April 2026


