icon

LensaDaily.com

Kategori Berita

Cabang Berita

Pilih Tema:

Tag: ombak


Kisah Tuan Kadi di Madina, Seberangi Sungai dan Laut Demi Menikahkan Orang: Bukan Medan Biasa

LensaDaily - Tanggungjawab dalam menjalankan tugas diemban Mangku Aulia Lubis, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailingnatal (Madina), menyebrangi sungai dan laut demi memastikan warga tetap mendapatkan pelayanan negara dalam pencatatan perkawinan.Di ujung Kabupaten Mandailing Natal (Madina), tepatnya di Pulau Tamang, Kecamatan Batahan, negara hadir melalui Kementerian Agama memastikan masyarakat terlayani dengan baik. Mangku Aulia Lubis, pria kelahiran Pulau Tamang tahun 1980, Penghulu Kecamatan Batahan harus menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 69,5 kilometer dari kantor KUA.Perjalanan itu bukan sekadar jarak, tetapi rangkaian medan berat yang dimulai dengan sepeda motor bututnya menuju sungai, menyeberang menggunakan getek, lalu menunggu kapal kecil menuju pelabuhan Palimbungan, dari pelabuhan ini Mangku Aulia menyeberangi laut menuju Pulau Tamang. Seluruh perjalanan bisa memakan waktu hingga tiga jam, bahkan lebih jika cuaca tak bersahabat.“Awalnya jujur saja, saya takut,” kata Mangku Aulia sambil tertawa mengenang pengalaman pertamanya di Mandailing, mengutip kemenag.go.id, Senin 22 Desember 2025.“Naik getek dan kapal bot kecil dengan ombak tinggi, pelampung pun belum tentu ada. Waktu turun ke pelabuhan, ombak sering menghantam tangga. Deg-degan sekali,” ujarnya.Pulau Tamang merupakan wilayah dengan keterbatasan infrastruktur. Listrik PLN tidak ada warga mengandalkan mesin desail desa dan sebagian kecil panel surya untuk supply. Jaringan internet nyaris tidak ada, hanya sinyal GSM untuk telepon. Namun di tengah keterbatasan itu, kehidupan sosial berjalan hangat dan penuh keramahan.“Memang sepi, tapi nyaman. Warganya ramah sekali. Kalau ada pejabat atau petugas datang, mereka merasa diperhatikan. Nikah di sana itu jadi momen besar. Mereka senang karena merasa negara hadir,” ujarnya.Kecamatan Batahan terdiri dari 18 desa, dengan rata-rata 140 hingga 150 peristiwa pernikahan setiap tahunnya. Empat desa di antaranya hanya bisa dijangkau dengan menyeberangi laut. Dalam kondisi tersebut, kehadiran KUA bukan sekadar administratif, melainkan simbol perhatian negara terhadap wilayah terluar.“Motivasi saya sederhana. Mereka sangat mengharapkan kehadiran kita. Daerah seperti ini jarang disentuh pembinaan keagamaan. Kalau kita datang, mereka merasa senang dan bahagia,” katanya.Tak jarang, setelah akad nikah, Mangku Aulia menyempatkan diri duduk bersama warga, mendengarkan cerita mereka, membahas kebutuhan keagamaan, hingga persoalan sosial desa. Sambutan warga sering kali sederhana ikan hasil tangkapan kadang di tawarkan makan atau sekadar kopi hangat namun penuh makna.“Bukan soal apa yang mereka beri, tapi bagaimana mereka menyambut. Itu yang membuat kami tetap semangat,” ujarnya.Ia juga berharap adanya dukungan sarana operasional yang memadai. “Kendaraan dinas yang sesuai medan sangat dibutuhkan. Jalur berlumpur, banjir, laut ini bukan medan biasa,” pungkasnyaApa yang dilakukan Mangku Aulia Lubis bukan sekadar menjalankan tugas administratif pernikahan, melainkan merawat harapan masyarakat di wilayah terluar agar tetap merasa diperhatikan, diakui, disentuh dan dilayani dengan bermartabat. Di sanalah nilai pelayanan Kementerian Agama menemukan ruh nya melayani bukan karena mudah, tetapi karena dibutuhkan.“Pengabdian di pelosok adalah pengingat bahwa tugas negara bukan memilih tempat yang nyaman, melainkan hadir di titik paling jauh ketika masyarakat memanggil. Sebab sejatinya, pelayanan yang berdampak bukan diukur dari jarak tempuh, melainkan dari seberapa jauh hati kita mau melangkah untuk sesame,” ucapnya.Selama masih ada masyarakat yang menunggu di seberang laut, di balik sungai, dan di ujung negeri, pengabdian itu akan terus berlayar dengan keyakinan bahwa setiap langkah kecil yang tulus, adalah bagian dari kerja besar membangun kemanusiaan.

22 Desember 2025

2 Kapal Nelayan Karam Diterjang Ombak di Sumut, 9 Orang Selamat-7 Masih Dicari

LensaDaily - Ombak tinggi menghantam dua kapal nelayan penangkap ikan hingga karam di kawasan perairan Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara dan Kuala Tanjung Balai-Asahan, Minggu 23 November 2025. Dari dua kejadian akibat cuaca buruk tersebut, 9 orang selamat dan 7 masih dalam pencarian.Berdasarkan data diperoleh Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan. Kapal pertama diterima laporannya, hilang akibat perahu karam di kawasan Perairan Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara, Minggu sore, 23 November 2025, sekitar Pukul 17.00 WIB.Kapal kedua diterima laporannya oleh Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan, yakni KM Jaya Mandiri 5 yang dikabarkan karam pasca melaut disekitar Perairan Kuala Tanjung Balai-Asahan pada Minggu malam, 23 November 2025, sekitar Pukul 23.00 WIB.Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan, Hery Marantika, menjelaskan untuk proses pencarian dan evakuasi korban kapal karam itu, pihaknya menurunkan KN SAR Sanjaya, dari Pos SAR Tanjung Balai. Kapal pertama Tim SAR gabungan berhasil menemukan dan mengevakuasi 9 orang nelayan. Sedangkan, satu korban bernama Mukhlis (60) warga Kelurahan Labuhan Ruku, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batubara, masih dalam pencarian. "Menurut informasi yang diterima dari pihak keluarga dan saksi, korban Mukhlis bersama 9 orang rekannya, berangkat melaut menggunakan perahu kecil pada pada Minggu pagi," ungkap Hery, Selasa 25 November 2025.Hery mengungkapkan diduga saat berada di perairan Tanjung Tiram, cuaca tiba-tiba memburuk dan gelombang tinggi menghantam perahu hingga terbalik. "Rekan-rekan korban berhasil menyelamatkan diri. Namun naas korban terbawa arus sebelum akhirnya menghilang dari pandangan," tutur Hery.Sementara, di kapal kedua terdapat 6 anak buah kapal (ABK). Kini, keenam korban masih dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan hingga saat ini."Ditempat terpisah, juga melakukan pencarian menggunakan 1 unit Landing Craft Rubber (LCR) terhadap 6 orang ABK KM Jaya Mandiri 5, yang dikabarkan karam pasca melaut disekitar Perairan Kuala Tanjung Balai Asahan," kata Hery.Untuk proses pencarian korban ini, tim SAR gabungan terdiri dari Polairud, TNI AL, BPBD Batubara, nelayan setempat, dan relawan masyarakat. Lanjut, Hery mengatakan pencarian dengan metode pencarian permukaan atau surface search menggunakan perahu karet  di radius beberapa mil laut dari titik duga korban jatuh. Hery menjelaakan bahwa operasi pencarian ini dilakukan dengan mengedepankan kecepatan, ketelitian, dan keselamatan seluruh personel. Ia mengimbau nelayan untuk memastikan kondisi cuaca saat ini. Bila terjadi cuaca ekstrem untuk tidak melaut dulu. "Kami berupaya semaksimal mungkin untuk menemukan korban. Seluruh unsur SAR terus bekerja di lapangan untuk melakukan penyisiran baik di permukaan maupun kemungkinan korban terbawa arus lebih jauh. Kami juga mengimbau masyarakat, khususnya para nelayan, agar selalu memperhatikan kondisi cuaca sebelum melaut. Keselamatan adalah yang utama,” ucap Hery.Hery mengatakan bahwa tantangan dihadapi SAR gabungan terkait cuaca buruk saat proses pencarian korban ini. Namun, proses pencarian akan dilakukan maksimal."Kondisi cuaca yang berubah-ubah, gelombang tinggi, serta arus kuat menjadi tantangan bagi tim di lapangan. Meski demikian, pencarian tetap dilaksanakan secara maksimal dengan pola penyisiran sektoral yang diperluas sesuai perkembangan di lapangan," kata Hery kembali.

25 November 2025